Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali!
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan!
Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan!
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya!
Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup!
Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat!
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul!
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal dijalanan!
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan!
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda!
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa...!
Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
Life is a gift
Live it...
Enjoy it...
Celebrate it...
And fulfill it.
Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena anda mencintainya...
It's true you don't know what you've got until it's gone,
but it's also true You don't know what you've been missing until it arrives!!!
dikutip dari : berbagai sumber
Sabtu, 17 Maret 2012
Selasa, 31 Januari 2012
Untuk Wanitaku
mungkin kau tau seperti apa rasanya rindu yang terpendam
setengah mati ingin bertemu namun hanya air mata yang kau temui
terisak jauh didalam batinmu yang semakin tersayat
namun kau tak berhenti berharap
hingga saat ini.. mungkin
kau juga pasti tau bagaimana rasanya dalam kesendirian
berjuang lebih dari sepenuh hati hingga menembus batas kemampuanmu
demi menjaga utuhnya sebuah ketulusan dengan kesabaranmu
seperti langit yang terbentang.. indah tanpa batas
sementara aku..
hanya berfikir dan terlupa untuk merasa
terus berjalan dan terlewati untuk menyapa
tegas melihat namun hanya mampu terdiam
terpaku pada perjuanganku sendiri
namun melepaskan akhir tujuan
dan terlambat memenangi hatimu..
dan kau pun tau seperti apa rasanya menunggu
terapung di antara kebimbangan dan keraguanku
bertarung dalam ruang nyata melawan kesemuan
tak ingin dilupakan atau pun melupakan..
terlepas dari semua kemunafikan yang kumiliki
aku hanya ingin melihatmu terus tersenyum
walau tanpa diriku..
namun..
bila masih tersisa keikhlasan dan keyakinanmu untukkujangan pernah membawaku pada masa lalu
tapi biarkan aku memelukmu dalam masa depanku..
Kamis, 22 Desember 2011
Belajar Mencintai Orang Lain
Suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di antara para sahabatnya, datanglah seorang pemuda dengan agak tergesa-gesa. Sebagai seorang pemuda yang sedang bergelora, ia sering terjerumus ke hal-hal yang negatif, yaitu perbuatan zina. Ia tahu bahwa perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan, tetapi ia merasa sulit untuk mengatasi gelora nafsunya. Pemuda itu berkata, ''Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku melakukan perbuatan zina.'' Gemparlah majelis Rasulullah SAW itu. Untuk apa pemuda itu menanyakan sesuat yang sudah jelas jawabannya, demikian kata mereka yang hadir. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mencibir pertanyan pemuda itu.
Namun, Nabi Muhammad tetap bijaksana dalam menanggapi pertanyaan pemuda itu. Rasulullah berkata kepada para sahabat, ''Suruhlah pemuda itu mendekatiku.'' Maka pemuda itu pun mendekati beliau. Setelah pemuda itu duduk di dekat beliau, maka dengan lembut Rasulullah SAW berkata kepadanya, ''Wahai anak muda, apakah kamu suka bila perzinaan itu dilakukan atas diri ibumu?'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Demikian perasaan orang lain, ia juga tidak suka bila hal itu terjadi pada diri ibunya.'' Rasulullah SAW berkata, ''Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu?
'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Orang lain pun demikian, ia tentu tidak rela bila hal itu terjadi pada diri putrinya.'' Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan serupa jika hal itu menimpa bibi ataupun saudara perempuannya. Pemuda itu mengemukakan jawaban yang sama. Rasulullah SAW bersabda, ''Wahai anak muda, ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang rela terhadap perbuatan yang menodai kehormatan keluarganya.'' Kemudian beliau meletakkan tangan beliau pada pemuda tersebut seraya berkata, ''Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.
'' Sesudah kejadian itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi melakukan perbuatan yang menodai kehormatan orang lain. (HR. Ahmad). Egoisme adalah bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin dihilangkan, untuk itu perlu dikendalikan dengan rasa cinta terhadap sesamanya. Sebab, jika tidak, ia akan melahirkan bencana kemanusiaan. Pemerkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan korupsi itu terjadi karena pelakunya tidak berpikir seandainya yang menjadi korban tindakannya itu adalah dirinya sendiri atau keluarganya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Salah seorang di antara kalian belum dikatakan beriman yang sebenarnya sebelum ia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari). (Muhammad Bajuri)
sumber : republika
Namun, Nabi Muhammad tetap bijaksana dalam menanggapi pertanyaan pemuda itu. Rasulullah berkata kepada para sahabat, ''Suruhlah pemuda itu mendekatiku.'' Maka pemuda itu pun mendekati beliau. Setelah pemuda itu duduk di dekat beliau, maka dengan lembut Rasulullah SAW berkata kepadanya, ''Wahai anak muda, apakah kamu suka bila perzinaan itu dilakukan atas diri ibumu?'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Demikian perasaan orang lain, ia juga tidak suka bila hal itu terjadi pada diri ibunya.'' Rasulullah SAW berkata, ''Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu?
'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Orang lain pun demikian, ia tentu tidak rela bila hal itu terjadi pada diri putrinya.'' Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan serupa jika hal itu menimpa bibi ataupun saudara perempuannya. Pemuda itu mengemukakan jawaban yang sama. Rasulullah SAW bersabda, ''Wahai anak muda, ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang rela terhadap perbuatan yang menodai kehormatan keluarganya.'' Kemudian beliau meletakkan tangan beliau pada pemuda tersebut seraya berkata, ''Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.
'' Sesudah kejadian itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi melakukan perbuatan yang menodai kehormatan orang lain. (HR. Ahmad). Egoisme adalah bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin dihilangkan, untuk itu perlu dikendalikan dengan rasa cinta terhadap sesamanya. Sebab, jika tidak, ia akan melahirkan bencana kemanusiaan. Pemerkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan korupsi itu terjadi karena pelakunya tidak berpikir seandainya yang menjadi korban tindakannya itu adalah dirinya sendiri atau keluarganya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Salah seorang di antara kalian belum dikatakan beriman yang sebenarnya sebelum ia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari). (Muhammad Bajuri)
sumber : republika
Sabtu, 03 Desember 2011
KITA SEBENARNYA..
Kita itu sebenarnya...
- Lebih gembira menyambut 1 Januari daripada 1 Muharram
- Lebih tahu apa itu 14 Februari daripada 12 Rabiulawal
- Lebih membesarkan hari Sabtu, Minggu daripada hari Jum’at
- Lebih khusyuk mendengar Lagu daripada mendengar Adzan
- Lebih suka Tidur dan Nonton TV dari pada Sembahyang
- Lebih tahu tentang artis pujaan kita dari pada nama nabi-nabi Allah
- Lebih suka menyebut hello!.. hai! daripada Assalamuallaikum
- Lebih suka menyanyi daripada berwirid, bertahmid
- Lebih suka memuji manusia daripada memuji Tuhan kita sendiri
- Lebih suka membaca majalah hiburan daripada buku-buku agama
- Lebih suka ke konser, karaoke daripada ceramah agama
- Lebih suka melihat wanita dengan pakaian sexy daripada wanita berjilbab
- Lebih suka memaki, mengumpat orang daripada memuji mereka
- Lebih suka mencarut, @#!*@!! daripada menyebut ‘MasyaAllah’
- Lebih suka kemungkaran daripada berbuat kebaikkan
- Lebih bangga dengan kejahilan kita daripada bersyukur dengan keimanan kita
- Lebih cinta urusan dunia daripada urusan akhirat
TETAPI kalau orang bertanya tentang arah tujuan kita, kita pasti akan jawab
Kita Sebenarnya...
Lebih suka menuju ke Surga daripada ke Neraka.
Layakkah kita dengan Surga milik Allah SWT ???
"Hai Kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amalan yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa dihisab." (Surah Al Mu'min ; ayat 39-40)
From : Syed (bc980024@siswa.utm.my)
Kamis, 01 Desember 2011
Tampang itu Perlu
Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.
"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nasrudin.
"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.
Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."
Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."
Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."
Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.
Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.
"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nasrudin.
"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nasrudin.
"Apa buktinya?" tanya hakim.
"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."
Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"
Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.
dikutip dari : bunga rampai seri-10
"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nasrudin.
"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.
Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."
Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."
Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."
Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.
Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.
"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nasrudin.
"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nasrudin.
"Apa buktinya?" tanya hakim.
"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."
Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"
Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.
dikutip dari : bunga rampai seri-10
Jumat, 11 November 2011
Belajar Mencinta
Leo F. Buscaglia, begitu namanya. Seorang professor pendidikan di University of Southren California, di Amerika. Ia seorang dengan banyak kegiatan sosial dan ceramah-ceramah tentang pendidikan. Satu tema yang terus menerus dibawanya dalam banyak ceramah, adalah tentang cinta.
"Manusia tidak jatuh 'ke dalam' cinta, dan tidak juga keluar 'dari cinta'. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta," begitu katanya dalam sebuah ceramah.
Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.
Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.
Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber: "nur syifaq"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Manusia tidak jatuh 'ke dalam' cinta, dan tidak juga keluar 'dari cinta'. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta," begitu katanya dalam sebuah ceramah.
Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya. Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.
Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta.
Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.
Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.
Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta.
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber: "nur syifaq"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kamis, 10 November 2011
Kekuasaan Syaitan di atas hati yang was-was
Rasulullah s.a.w bersabda : "Tergesa-gesa itu daripada Syaitan dan tenang itu dari Allah."
Mengawal hati itu sangat sukar. Hati itu bertukar-tukar dan berbalik-balik seperti balak di tengah laut dipukul ombak. Mana pernah ada hentinya berpusing dan berputar. Sepatutnya setiap pergerakan dan akal fikiran ditumpukan kepada gerakan hati. Hati ini akan hanya dapat dikawal dengan perantaraan ilmu dengan perantaraan akal fikiran. Ilmu itu penyuluh akal yang akan mengemudikan hati dengan tepat menuju ke matlamatnya iaitu sentiasa di dalam taat kepada Allah. Dan di akhir matlamat tersebut ialah bertemu dengan Allah s.w.t. Sabda Rasulullah s.a.w: "Kamu menyembah Allah s.w.t seolah-olah kamu melihatNya. Jikalau kamu tidak dapat melihatNya, maka Allah melihat kamu." (HR Bukhari dan Muslim)
Hati yang sentiasa memandang kebesaran dan kemuliaan Allah, tidak akan memandang kepada yang lain kerana yang lain daripada Allah itu serba kekurangan dan mempunyai kecacatan. Allah sahaja yang Maha Indah dan Maha Sempurna. Di dalam hidup ini, manusia ingin mencari yang sempurna dan yang indah. Manusia hanya akan bertemu dengan kesempurnaan yang Maha Sempurna itu pada Allah yang bersifat Jamal dan Kamal. Selain daripada kecintaan kepada Allah, adalah palsu. Inilah hati yang kenal dengan Allah s.w.t. Di dalam Al Quran Allah berfirman : " (Allah bertanya kepada ruh) Bukankah Aku ini Tuhan kamu ? Maka mereka (ruh-ruh itu) berkata: Sesungguhnya, Kami menyaksikan engkaulah Tuhan Kami." (Al A'raf :172)
Sewaktu di alam ruh lagi Allah telah bertanya kepada manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Maka manusia berjanji dan mengaku bahawa Allahlah Tuhan sekalian alam. Maka apabila dizahirkan manusia itu ke bumi, maka diantara peranan yang perlu dilakukan oleh manusia itu ialah ibadah, sesuai dengan janji manusia ketika di alam ruh.
Firman Allah : "Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu." (Ad Dzariyat: 56) Tetapi apabila dizahirkan di dunia, manusia berdepan dengan dua musuh besar yang sentiasa menjerumuskan manusia ke dalam lembah kehinaan iaitu nafsu dan syaitan. Firman Allah : "Tidakkah kamu melihat orang yang mengambil nafsu sebagai Tuhan." (Al Jaatsiyah : 23)
"Apakah belum Aku janjikan kepada kamu sekalian hai bani Adam (manusia), agar kamu semua jangan menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kamu yang nyata."
(Yasin: 60)
Nafsu adalah sifat yang secara semulajadinya telah berada di dalam hati manusia sejak manusia di lahirkan ke dunia. Pada peringkat yang rendah nafsu ini lebih keji dari binatang. Firman Allah: " Sesungguhnya nafsu itu sangat menuruh kepada kejahatan." (Yusuf: 53)
Dan yang menunggangi nafsu itu adalah syaitan. Syaitan membisikkan ke dalam hati manusia mengenai keindahan dan kecantikan dunia. Diperlihatkan dihadapan manusia dengan penuh ghairah akan wanita dan harta benda yang semuanya itu sangat disukai nafsu. Lalu didorong manusia itu untuk segera melupai Allah dan berpaling kepada yang disukai nafsunya. Firman Allah :
"Syaitan telah menguasai mereka, lantas membuatkan mereka lalai mengingati Allah."
(Al Mujadalah: 19)
Anas berkata : Rasulullah s.a.w pernah berkata : " Sesungguhnya Syaitan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia. Maka apabila manusia itu ingat kepada Allah, mundurlah Syaitan dan apabila ia lupa kepada Allah, maka Syaitan itu menelan hatinya." Berkata Ibnu Wadhah di dalam hal ini : "Apabila seseorang telah sampai usia empat puluh tahun dan belum pula ia taubat, maka Syaitan menyapu muka orang itu dengan tangannya sambil berkata: Demi ayahku, inilah muka orang yang rugi." Dan sebagaimana nafsu syahwat meresap ke dalam darah daging manusia, maka begitu juga kekuasaan Syaitan terhadap hati dan pemikiran manusia. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda : "Bahawasanya Syaitan itu berjalan pada manusia di dalam urat darahnya, maka persempitkanlah tempat lalu Syaitan itu dengan lapar (berpuasa)."
Kebanyakan hati manusia dikalahkan oleh Syaitan yang telah berjaya menyerap masuk ke dalam hatinya dengan pengaruh nafsu. Sehingga hati itu memilih keduniaan dan melupakan akhirat. Hal ini tidak dapat dikalahkan melainkan manusia itu kembali kepada zikir Allah (mengingati Allah). Berkata Jabir bin Ubaidah Al Adawi: Saya pernah mengeluh kepada Al A'la bin Ziyad : tentang was-was yang terdapat di dalam dada saya. Maka ia berkata : Bahawa Hati itu umpama sebuah rumah yang dilalui beberapa pencuri. Pencuri-pencuri itu berusaha mencuri apa-apa yang menjadi kegemarannya di dalam rumah tersebut. Tetapi jika di dalam rumah tersebut tidak mempunyai apa-apa, maka pencuri-pencuri itu akan melalui sahaja rumah itu dan akan meninggalkannya. Yakni hati yang bersih daripada syahwat nafsu tidak akan dimasuki Syaitan. Kerana itu Allah berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu itu tidak ada kekuasaan bagimu (Syaitan) ke atas mereka." (Bani Israil: 65)
"Bahawasanya orang-orang yang bertaqwa, apabila mereka diganggu oleh Syaitan, lantas mereka ingat kepada Allah, maka jika begitu mereka akan melihat." (Al A'raf: 201)
Untuk mengalahkan Syaitan hati perlu diisi dengan zikrullah dan iman. Dosa samada kecil atau besar adalah perosak dan peruntuh iman. Orang yang benar-benar mahu memelihara dan meningkatkan iman, janganlah melakukan dosa. Kalau terbuat cepat-cepatlah istigfar dan bertaubat kepada Allah. Jika tidak Syaitan akan menjalankan tipudayanya.
Iman juga boleh naik dan turun . Inilah sifat iman ilmu yang belum lagi meresap ke dalam hati. Kerana itu ianya mesti dibajai dan disuburkan dengan ibadah dan mujahadah. Dan perlu diingat segala amalan dan ibadah yang kita lakukan itu, mestilah dengan ikhlas dan tawadhuk. Jikalau tidak ibadah yang kita lakukan itu tidak ada nilainya di sisi Allah. Malah jikalau tidak bersungguh-sungguh kita melakukan ibadah, ibadah yang kita lakukan itu, bukan sahaja tidak mendapat apa-apa di sisi Allah, tetapi akan mendapat dosa kerana tidak beradabnya kita di sisi Allah.
Bila kita dapat melakukan ibadah dengan khusyuk dan ikhlas, maka akan timbullah di dalam hati rasa kebesaran Allah, hati akan lebih mengenal Allah, takut kepada Allah, menghina diri dan malu dengan Allah, takut ancaman Allah dan harap akan nikmat Allah, terasa gerun dan cinta kepada Allah. Bila telah masuk perasaan-perasaan tersebut di dalam hati, secara sendirinya hati akan beramal dengan amalan yang baik dan sentiasa mengingati Allah dengan zikrullah yang akhirnya mendatangkan ketenangan pada batin manusia dan akan memundurkan Syaitan daripada menguasai hati kita. Rasulullah s.a.w bersabda: "Tergesa-gesa itu daripada Syaitan dan tenang itu dari Allah."
Mengingati Allah sehingga melahirkan tenang bukannya senang. Ramai orang yang beribadah dan mengingati Allah, tetapi jiwa mereka kusut. Mengapa ?. Kerana ibadah mereka itu tidak dijiwai dan dijagai adabnya. Tuntutan ibadah tidak dilaksanakan. Ramai manusia yang fikir apabila menunaikan ibadah kepada Allah, mereka telah melaksanakan tuntutan ibadah. Belum selesai lagi. Kerana tuntutan ibadah itu ada hubungannya dengan manusia. Ibadah melahirkan akhlak. Akhlak melahirkan kasih sayang dan kemesraan sesama manusia.
Syaitan ini sangat pandai di dalam menjalankan tipudayanya. Adakalanya digesa kita beribadah kepada Allah tetapi dilalaikan kita dengan adab dan akhlak kepada manusia. Jikalau kasih sayang sesama manusia belum wujud di dalam diri kita, ertinya ibadah yang kita lakukan masih belum sempurna. Kerana itu ramai yang kita lihat rajin sembahyang, rajin berpuasa, rajin pergi umrah tetapi hati mereka tidak tenang. Kerana apa? Kerana mereka rajin pergi umrah tetapi jiran mereka kelaparan mereka tidak ambil tahu. Mereka rajin bersembahyang, tetapi jiran mereka tidak ada pakaian, mereka tidak peduli. Tidak ada kasih sayang, tidak ada silaturrahim. Maka hasilnya tiada keberkatan dan ketenangan. Kerana apa? Kerana ibadah yang dilakukan itu bukan hasil dari Iman yang sempurna. Kerana Iman yang sempurna itu akan menguatkan hubungan hati dengan Allah dan hubungan hati dengan manusia. Tanpa mengasihi manusia, kasih sayang Allah tidak akan diperolehi. Barangsiapa yang kasih kepada makhluk di bumi, maka dia akan dikasihi oleh makhluk di langit. Dan Allah akan campakkan kehebatan dan ketenangan kepada hamba-hamba yang dipilihNya, lalu menyelamatkan mereka dari dikuasai oleh nafsu dan Syaitan laknatullah alaih di dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah s.w.t.
Dipetik daripada www.syukur.com
Mengawal hati itu sangat sukar. Hati itu bertukar-tukar dan berbalik-balik seperti balak di tengah laut dipukul ombak. Mana pernah ada hentinya berpusing dan berputar. Sepatutnya setiap pergerakan dan akal fikiran ditumpukan kepada gerakan hati. Hati ini akan hanya dapat dikawal dengan perantaraan ilmu dengan perantaraan akal fikiran. Ilmu itu penyuluh akal yang akan mengemudikan hati dengan tepat menuju ke matlamatnya iaitu sentiasa di dalam taat kepada Allah. Dan di akhir matlamat tersebut ialah bertemu dengan Allah s.w.t. Sabda Rasulullah s.a.w: "Kamu menyembah Allah s.w.t seolah-olah kamu melihatNya. Jikalau kamu tidak dapat melihatNya, maka Allah melihat kamu." (HR Bukhari dan Muslim)
Hati yang sentiasa memandang kebesaran dan kemuliaan Allah, tidak akan memandang kepada yang lain kerana yang lain daripada Allah itu serba kekurangan dan mempunyai kecacatan. Allah sahaja yang Maha Indah dan Maha Sempurna. Di dalam hidup ini, manusia ingin mencari yang sempurna dan yang indah. Manusia hanya akan bertemu dengan kesempurnaan yang Maha Sempurna itu pada Allah yang bersifat Jamal dan Kamal. Selain daripada kecintaan kepada Allah, adalah palsu. Inilah hati yang kenal dengan Allah s.w.t. Di dalam Al Quran Allah berfirman : " (Allah bertanya kepada ruh) Bukankah Aku ini Tuhan kamu ? Maka mereka (ruh-ruh itu) berkata: Sesungguhnya, Kami menyaksikan engkaulah Tuhan Kami." (Al A'raf :172)
Sewaktu di alam ruh lagi Allah telah bertanya kepada manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Maka manusia berjanji dan mengaku bahawa Allahlah Tuhan sekalian alam. Maka apabila dizahirkan manusia itu ke bumi, maka diantara peranan yang perlu dilakukan oleh manusia itu ialah ibadah, sesuai dengan janji manusia ketika di alam ruh.
Firman Allah : "Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu." (Ad Dzariyat: 56) Tetapi apabila dizahirkan di dunia, manusia berdepan dengan dua musuh besar yang sentiasa menjerumuskan manusia ke dalam lembah kehinaan iaitu nafsu dan syaitan. Firman Allah : "Tidakkah kamu melihat orang yang mengambil nafsu sebagai Tuhan." (Al Jaatsiyah : 23)
"Apakah belum Aku janjikan kepada kamu sekalian hai bani Adam (manusia), agar kamu semua jangan menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kamu yang nyata."
(Yasin: 60)
Nafsu adalah sifat yang secara semulajadinya telah berada di dalam hati manusia sejak manusia di lahirkan ke dunia. Pada peringkat yang rendah nafsu ini lebih keji dari binatang. Firman Allah: " Sesungguhnya nafsu itu sangat menuruh kepada kejahatan." (Yusuf: 53)
Dan yang menunggangi nafsu itu adalah syaitan. Syaitan membisikkan ke dalam hati manusia mengenai keindahan dan kecantikan dunia. Diperlihatkan dihadapan manusia dengan penuh ghairah akan wanita dan harta benda yang semuanya itu sangat disukai nafsu. Lalu didorong manusia itu untuk segera melupai Allah dan berpaling kepada yang disukai nafsunya. Firman Allah :
"Syaitan telah menguasai mereka, lantas membuatkan mereka lalai mengingati Allah."
(Al Mujadalah: 19)
Anas berkata : Rasulullah s.a.w pernah berkata : " Sesungguhnya Syaitan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia. Maka apabila manusia itu ingat kepada Allah, mundurlah Syaitan dan apabila ia lupa kepada Allah, maka Syaitan itu menelan hatinya." Berkata Ibnu Wadhah di dalam hal ini : "Apabila seseorang telah sampai usia empat puluh tahun dan belum pula ia taubat, maka Syaitan menyapu muka orang itu dengan tangannya sambil berkata: Demi ayahku, inilah muka orang yang rugi." Dan sebagaimana nafsu syahwat meresap ke dalam darah daging manusia, maka begitu juga kekuasaan Syaitan terhadap hati dan pemikiran manusia. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda : "Bahawasanya Syaitan itu berjalan pada manusia di dalam urat darahnya, maka persempitkanlah tempat lalu Syaitan itu dengan lapar (berpuasa)."
Kebanyakan hati manusia dikalahkan oleh Syaitan yang telah berjaya menyerap masuk ke dalam hatinya dengan pengaruh nafsu. Sehingga hati itu memilih keduniaan dan melupakan akhirat. Hal ini tidak dapat dikalahkan melainkan manusia itu kembali kepada zikir Allah (mengingati Allah). Berkata Jabir bin Ubaidah Al Adawi: Saya pernah mengeluh kepada Al A'la bin Ziyad : tentang was-was yang terdapat di dalam dada saya. Maka ia berkata : Bahawa Hati itu umpama sebuah rumah yang dilalui beberapa pencuri. Pencuri-pencuri itu berusaha mencuri apa-apa yang menjadi kegemarannya di dalam rumah tersebut. Tetapi jika di dalam rumah tersebut tidak mempunyai apa-apa, maka pencuri-pencuri itu akan melalui sahaja rumah itu dan akan meninggalkannya. Yakni hati yang bersih daripada syahwat nafsu tidak akan dimasuki Syaitan. Kerana itu Allah berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu itu tidak ada kekuasaan bagimu (Syaitan) ke atas mereka." (Bani Israil: 65)
"Bahawasanya orang-orang yang bertaqwa, apabila mereka diganggu oleh Syaitan, lantas mereka ingat kepada Allah, maka jika begitu mereka akan melihat." (Al A'raf: 201)
Untuk mengalahkan Syaitan hati perlu diisi dengan zikrullah dan iman. Dosa samada kecil atau besar adalah perosak dan peruntuh iman. Orang yang benar-benar mahu memelihara dan meningkatkan iman, janganlah melakukan dosa. Kalau terbuat cepat-cepatlah istigfar dan bertaubat kepada Allah. Jika tidak Syaitan akan menjalankan tipudayanya.
Iman juga boleh naik dan turun . Inilah sifat iman ilmu yang belum lagi meresap ke dalam hati. Kerana itu ianya mesti dibajai dan disuburkan dengan ibadah dan mujahadah. Dan perlu diingat segala amalan dan ibadah yang kita lakukan itu, mestilah dengan ikhlas dan tawadhuk. Jikalau tidak ibadah yang kita lakukan itu tidak ada nilainya di sisi Allah. Malah jikalau tidak bersungguh-sungguh kita melakukan ibadah, ibadah yang kita lakukan itu, bukan sahaja tidak mendapat apa-apa di sisi Allah, tetapi akan mendapat dosa kerana tidak beradabnya kita di sisi Allah.
Bila kita dapat melakukan ibadah dengan khusyuk dan ikhlas, maka akan timbullah di dalam hati rasa kebesaran Allah, hati akan lebih mengenal Allah, takut kepada Allah, menghina diri dan malu dengan Allah, takut ancaman Allah dan harap akan nikmat Allah, terasa gerun dan cinta kepada Allah. Bila telah masuk perasaan-perasaan tersebut di dalam hati, secara sendirinya hati akan beramal dengan amalan yang baik dan sentiasa mengingati Allah dengan zikrullah yang akhirnya mendatangkan ketenangan pada batin manusia dan akan memundurkan Syaitan daripada menguasai hati kita. Rasulullah s.a.w bersabda: "Tergesa-gesa itu daripada Syaitan dan tenang itu dari Allah."
Mengingati Allah sehingga melahirkan tenang bukannya senang. Ramai orang yang beribadah dan mengingati Allah, tetapi jiwa mereka kusut. Mengapa ?. Kerana ibadah mereka itu tidak dijiwai dan dijagai adabnya. Tuntutan ibadah tidak dilaksanakan. Ramai manusia yang fikir apabila menunaikan ibadah kepada Allah, mereka telah melaksanakan tuntutan ibadah. Belum selesai lagi. Kerana tuntutan ibadah itu ada hubungannya dengan manusia. Ibadah melahirkan akhlak. Akhlak melahirkan kasih sayang dan kemesraan sesama manusia.
Syaitan ini sangat pandai di dalam menjalankan tipudayanya. Adakalanya digesa kita beribadah kepada Allah tetapi dilalaikan kita dengan adab dan akhlak kepada manusia. Jikalau kasih sayang sesama manusia belum wujud di dalam diri kita, ertinya ibadah yang kita lakukan masih belum sempurna. Kerana itu ramai yang kita lihat rajin sembahyang, rajin berpuasa, rajin pergi umrah tetapi hati mereka tidak tenang. Kerana apa? Kerana mereka rajin pergi umrah tetapi jiran mereka kelaparan mereka tidak ambil tahu. Mereka rajin bersembahyang, tetapi jiran mereka tidak ada pakaian, mereka tidak peduli. Tidak ada kasih sayang, tidak ada silaturrahim. Maka hasilnya tiada keberkatan dan ketenangan. Kerana apa? Kerana ibadah yang dilakukan itu bukan hasil dari Iman yang sempurna. Kerana Iman yang sempurna itu akan menguatkan hubungan hati dengan Allah dan hubungan hati dengan manusia. Tanpa mengasihi manusia, kasih sayang Allah tidak akan diperolehi. Barangsiapa yang kasih kepada makhluk di bumi, maka dia akan dikasihi oleh makhluk di langit. Dan Allah akan campakkan kehebatan dan ketenangan kepada hamba-hamba yang dipilihNya, lalu menyelamatkan mereka dari dikuasai oleh nafsu dan Syaitan laknatullah alaih di dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah s.w.t.
Dipetik daripada www.syukur.com
Langganan:
Postingan (Atom)
Cara Mudah Membuat Es Krim Cup
Haaaaiiii.. Wah gak kerasa 6 tahun sudah ini blog mati suri, banyak yang berubah pasti ya, tapi kalo soal iseng buat bikin sesuatu mah gak...
-
Haaaaiiii.. Wah gak kerasa 6 tahun sudah ini blog mati suri, banyak yang berubah pasti ya, tapi kalo soal iseng buat bikin sesuatu mah gak...
-
Rasulullah s.a.w bersabda : "Tergesa-gesa itu daripada Syaitan dan tenang itu dari Allah." Mengawal hati itu sangat sukar. Hati ...
-
Suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di antara para sahabatnya, datanglah seorang pemuda dengan agak tergesa-gesa. Sebagai seorang pemuda ...